Posted in Coretan Nasib on 8 Februari 2010 by Desi Diarnitha

Mom, I really miss u now.

Aku kehilangan cintaku lagi, Ma..
Lagi..
Datang dan pergi, terbang dan hilang..
Tak ada kebahagiaan yang abadi di dunia ini.

Aku sedih, Ma.
Aku pikir dia berbeda dan akan selalu di sampingku, tetapi ternyata dia juga sama.

Aku tak tahu mengapa ini terjadi.

Aku ingin lari, teriak, tapi aku tak bisa.

Aku tahu pelangi itu tak pernah datang lagi, hanya hujan penghapus kemarau panjang, tanpa membawa pelangi itu.

Waktu Ashar Itu

Posted in Coba Baca Puisi Saya on 27 Januari 2010 by Desi Diarnitha

Langit membiru
Tapi seakan palsu
Gemuruh itu
Membuatku ragu

Harusku ke sana
Menjadi perantara
Antara ilmu dan dirinya
Yang haus akan cahaya

Panggilan itu kembali datang
Membuatku tumbang
Tapi hati ini tetap lekang
Tak ada lagi karang penghalang
Apalagi wanita jalang

Hari Bodoh Sedunia

Posted in Karya Kita on 27 Januari 2010 by Desi Diarnitha

Hari ini adalah hari yang sangat bodoh!

Oh GHOST….

Aku bener-bener merasa sangat bodoh, amat bodoh… aku maluuuu, semalu-malunya.
Jam tanganku menunjukan waktu 12.35, aku berangkat kuliah Etprof tapi aku sempetkan mampir ke kos Yoga dulu .

Matahari sangat terik, panas sekali… Kulitku mungkin terbakar.

Lantas aku sudah sampai di depan kosnya,

ada seorang laki-laki yang menyapaku,

“Kak Desi…..” (dengan raut muka yang begitu bersahabat).

Lantas aku membalas sapaannya tanpa piker panjang,

“Hai ,Corie…”

Lantas ‘Si Corie’ langsung tertunduk.

Aku bingung, otakku langsung tersentak untuk berpikir.

Berpikir…
Berpikir…
Berpikir…
Berpikir…

OH GHOST………………………
Namanya BUKAN CORIE tapi ULIL…!!!!!!!!!!!!!!!!!!
Cantik sekali…

Lagi-lagi aku melakukan kesalahan yang sama.
Melupakan nama seorang teman.

Oh teman, maafkan aku…
Bukan maksud hati melupakanmu tetapi memori di otakku yang merekam nama-nama para manusia yang aku tahu atau aku kenal sangat amat lemah…

Maaf ya, Ulil…
T_T

beberapa hari kemudian . . .

Aku kembali bertemu dengannya,

Dan akuuuu

Kembali lupa siapa namanya

Tetapi cukup membalas say hai-nya saja.

(END)

Dunia Cinta

Posted in Coba Baca Puisi Saya on 27 Januari 2010 by Desi Diarnitha

Adakah waktumu
Aku ingin menanyakan sesuatu
Tak ada lagi pertanyaan ambigu
Apalagi jawaban pilu

Yah, lagi-lagi tentang cinta

Cinta
Cinta Cinta
Cinta Cinta Cinta

Aku ingin berperan sebagai Cinta
Ia yang seolah-olah sangat sempurna
Dalam film terpolpuler remaja
Penggebrak layar lebar Indonesia

Ia sangat cantik
Menarik
Membuat para pria tergelitik
Ada pula 4 sahabat karib

Aku tak lagi ingin berperan sebagai Cinta
Tapi aku sangat ingin menjadi Cinta
Tak tahu apa ada cara
Untuk aku pergi ke sana

Ke dunia milik Cinta

Bahagia v.s. Mencuri

Posted in Karya Kita on 25 Januari 2010 by Desi Diarnitha

Sebenaranya apa alasan manusia bersedih?
Aku pernah memikirkan itu….

Kalian tahu bagaimana cara membuatmu selalu bahagia?
Hanya satu jawabannya, yaitu coba pikirkan dirimu sendiri, tidak ada orang lain yang kamu pikirkan. Itu saja.

Kalian tahu apa kesalahan manusia?
Sebenarnya kesalahan manusia hanya satu, yaitu mencuri.
Berbohong : Mencuri hak orang lain untuk mengetahui kebenaran.
Membunuh : Mencuri hak orang lain untuk hidup.
Mencontek : Mencuri hasil kerja orang lain kemudian menyalinnya (baik dengan izin atau tanpa izin si korban).
Dan masih banyak lagi…….

Aku Anehkah?

Posted in Coretan Nasib on 15 Januari 2010 by Desi Diarnitha

Sebagian orang kini menganggap aku hanya seorang wanita aneh, aneh? Aku tidak merasa seperti itu tapi aku hanya berusaha menjadi manusia normal dengan kehidupanku yang teramat tidak biasa.
Aku ingin cepat menyelesaikan kuliahku, aku benar-benar sulit beradaptasi di sini. Aku, aku tidak dapat akrab dengan siapapun di sini. Aku ingin pulang tetapi aku tak ingin bertemu ia di rumah, aku tak mau.

Kamu pernah merasakan rasanya jatuh?
Jatuh dari sepeda?
Jatuh dari tangga?
Atau jatuh dari tempat tidur?

Aku mungkin terlalu memaksakan agar orang-orang di sekitarku mengerti tentang rasa sakit itu, hana beberapa yang mau mengerti, sementara yang tidak bisa mengerti aku menolak untuk berada di dekat mereka.

Yah, aku semakin menjauh dari lingkungan sekitarku.

Cinta Sejati

Posted in Karya Kita on 15 Januari 2010 by Desi Diarnitha

Bukan sesuatu yang aneh apabila seseorang wanita mempertanyakan siapa cinta sejatinya. Bukan hanya wanita, mungkin para pria di luar sana juga mempertanyakan hal yang sama. Yah, cinta sejati

Cinta,
Cinta,
Cinta,
Cinta,
Cinta,

Semua manusia membahas tentang cinta.
Mereka seakan-akan sangat mengerti akan makna itu.

Aku? Aku pun tidak tahu makna cinta itu. Aku tidak buta, aku tidak tuli, aku pun tidak bisu, tetapi aku tahu hati ini belum terlalu pintar untuk menjawab pertanyaan mengenai cinta.
Hati ini yang tiap detiknya merasakan sesuatu yang berbeda, tapi ternyata itu belum cukup untuk membuatnya pintar sehingga ia dapat menjawab pertanyaan itu.

Yah, aku belum melewati ujian itu
Ujian dimana masih mempertanyakan tentang cinta.

. . . . .

Saat kita menutup mata untuk yang terakhir kali,
mungkin seseorang itu akan muncul,
seseorang yang begitu membekas di hati yang tak pernah diberikan pelajaran di sekolah,
seseorang yang selalu ada di hati ini,

hati ini benar-benar diciptakan begitu putih, begitu tulus,
sampai-sampai ia tak pernah peduli apakah seseorang itu membalas cintanya,
hati ini tetap bersedia menaruhnya di ruang hatinya,
menyimpannya dalam-dalam,

mungkin dialah yang disebut

cinta sejati.

Setiap Orang Pasti Tahu Bagaimana Membuat Dirinya Bahagia

Posted in Karya Kita on 14 Januari 2010 by Desi Diarnitha

Kamu pernah memperhatikan setiap manusia yang kamu temui sepanjang jalan yang kamu lewati?
Aku pernah.
Kebetulan aku lebih terfokus kepada mereka-mereka yang beraut wajah kusam.
Hanya satu pertanyaan yang kerap mendatangi benakku, bagaimana cara mereka menghadapi hidup ini? Hidup yang keras ini.
Mereka yang notabene hanya seorang pedagang asongan, tukang somay keliling, tukang tambal ban, apa yang mereka dapat hanya dengan berdagang itu semua? Apa yang mereka lakukan hingga hidup yang keras ini dapat ia taklukan, aku tak tahu, tak tahu jawabannya..

Satu yang ku tahu pasti…

“Setiap orang pasti tahu bagaimana membuat dirinya bahagia. “

Begitu juga dengan aku, aku punya cara sendiri untuk membuat diriku bahagia. Aku menulis artikel ini bukan karena aku ingin mencurahkan semua rasa yang ada dalam hati dan pikiranku, berharap kalian iba padaku atau mengasihiku, bahkan memberikan perhatian lebih kepadaku, bukan itu! Aku hanya ingin berbagi pengalamanku agar kalian para pembaca dapat belajar, belajar dari kisahku.
Kalian tahu bagaiman rasanya kehilangan? Kenapa rasa kehilangan itu sangat menyakitkan? Aku pun tak tahu jawabannya. Inilah yang aku rasakan sekarang dan selamanya. Semenjak kejadian itu terjadi bertubi-tubi, hidupku serasa hampa, hilang arah, dan tak ada gairah.
Orang yang melahirkanku, mengajarkan bagaimana memberikan kasih yang tulus kepada orang-orang di sekitarnya, tapi pergi tanpa mengucap apa-apa kepadaku. Betapa menyakitkan mengingatnya. Sementara aku di sini, tak berubah. Semakin larut dalam kehampaan, kehancuran, kebodohan yang memaksa membalut mereka dengan kebahagiaan.
Aku tetap mensyukuri ini semua, karena aku tetap seorang makhluk yang lemah.

Kelly Clarkson – Breakaway

Posted in Lirik Lagu on 6 Januari 2010 by Desi Diarnitha

Grew up in a small town
And when the rain would fall down
I’d just stare out my window
Dreaming of what could be
And if I’d end up happy
I would pray
Trying hard to reach out
But when I tried to speak out
Felt like no one could hear me
Wanted to belong here
But something felt so wrong here
So I’d pray
I could break away
I’ll spread my wings and I’ll learn how to fly.
I’ll do what it takes till I touch the sky.
Make a wish, take a chance,
Make a change, and break away.
Out of the darkness and into the sun.
But I won’t forget all the ones that I love.
I’ll take a risk, take a chance,
Make a change, and break away
Wanna feel the warm breeze
Sleep under a palm tree
Feel the rush of the ocean
Get onboard a fast train
Travel on a jetplane
Far away
And break away
I’ll spread my wings and I’ll learn how to fly.
I’ll do what it takes till I touch the sky.
Make a wish, take a chance,
Make a change, and break away.
Out of the darkness and into the sun.
But I won’t forget all the ones that I love.
I’ll take a risk, take a chance,
Make a change, and break away
Buildings with a hundred floors
Swinging with revolving doors
Maybe I donâ €™t know where they’ll take me
Gotta keep movin on movin on
Fly away
Break away
I’ll spread my wings and I’ll learn how to fly.
Though itâ €™s not easy to tell you goodbye
Take a risk, take a chance,
Make a change, and break away.
Out of the darkness and into the sun.
But I won’t forget the place I come from
I gotta take a risk, take a chance,
Make a change, and break away
Breakaway
Break away

Malam 2010

Posted in Coretan Nasib on 2 Januari 2010 by Desi Diarnitha

Malam ini adalah malam kedua di tahun 2010. Malam yang sangat sepi, sepi sekali. Aku mencoba memusatkan pikiranku terhadap beberapa lembar kertas bertinta hitam yang dengan paksaan manusia disatukan. Kembali aku mengeluh: “Ah, sangat membosankan sekali.” Aku bosan berkomat-kamit sambil mengotori kertas-kertas yang tidak berdosa itu.

Kantuk pun belum menjemputku. Aku bergerak mengubah posisiku, memutuskan untuk berada di depan benda ajaib yang sangat berguna untuk menghilangkan kebosananku. Aku kembali menulis.

Aku tidak sendiri di ruangan yang hanya berukuran 3×3 m ini, sempit, dan agak sedikit pengap; Aku ditemani dengan lagu yang belakangan ini aku sering perdengarkan Because You Love Me – Celine Dion. Huh, ntah berapa kali aku telah mendengarkan lagu itu, tak bosan, belum bosan lebih tepatnya.

. . .

Sedikit pengalamanku akan kubagikan ketika aku akan menghabiskan malam terakhir di tahun 2009.

Aku mencoba mengajak abi (panggilan sayang untuk pacar ketujuhku, Angga Sekensend) untuk pergi ke Monas menyambut malam tahun baru. Pada mulanya, ia tampak tidak bersemangat dengan mengatakan alasan merayakan tahun baru adalah salah satu bid’ah. Klise sekali jawabannya tetapi akhirnya demi cinta, ia rela mengabulkan permintaanku.

Kami berangkat sekitar pukul 19.00, kami takut terjebak macet yang parah di sana. Sekitar 1,5 jam tibalah kami di Monas, mungkin ditambah 45 menit merayap di pinggir arena Monas karena mencari lahan parkir yang semestinya. Abiku sayang pun merasa sangat lelah karena harus menyeimbangkan kopling dan rem motornya, bahkan ia sempat menampakkan wajah bete yang membuatku jadi 100 kali lipat bete.

Suasana di Monas begitu ramai, tetapi itulah pertama kalinya aku merayakan tahun baru di Monas. Dan bagi abi, itulah pertama kalinya ia merayakan tahun baru bersama pacarnya (polos sekali pacarku yang satu ini).

Kami duduk di taman Monas, abi sempat menghabiskan bekal makan kami. Aku juga tidak terlalu lapar. Aku lebih suka makan mangga asam + garam cabai, hhe.

Setelah ia makan, kami mencoba mencari tempat yang lebih nyaman karena ada anak kecil (perempuan) yang meniup-niupkan terompet kecilnya ke arahku. Walaupun bentuknya kecil tetapi terompet itu sukses memekakkan telinagaku. Telingaku sangat risih dibuatnya. Alhasil, kami harus mencari tempat yang lebih nyaman.

Duduklah kami di tempat yang setidaknya jauh lebih nyaman. Hanya beralaskan sandal kami masing-masing. Walaupun rumput-rumput itu membuat kami agak gatal tetapi akhirnya kami bisa membuat diri kami nyaman.

Sejak pukul 21.00, langit di Monas sudah diwarnai dengan berbagai macam kembang api raksasa. Indahnya malam itu mengobati lelah abi. Yah, kami benar-benar menikamati pemandangan langit malam itu. Kami sangat senang, amat sangat senang.

. . .

Sesekali aku melihat ke arahnya, wajahnya benar-benar rupawan, aku senang sekali melihat wajahnya, apalagi ketika ia tersenyum, ditambah lagi ketika ia tersipuh malu. Kadang terbesit rasa bangga telah membuatnya jatuh hati kepadaku. Seseorang yang telah aku tahu sejak aku memasuki kampus tercinta ini, seseorang yang juga sempat menyita perhatianku, yah walaupun sedikit, hhe.

Terlintas di pikiranku, ia memang orang yang selama ini aku cari, orang yang menyayangiku dengan amat tulus, orang yang tidak akan pernah menyakatiku apalagi meninggalkanku, ia akan menjadi ayah dari anak-anakku kelak.

. . .
Kami berada tepat di bawah kembang api raksasa yang saling bersahutan di tengah pergantian tahun itu. Kami sangat menikmati suasana kali itu. Sesekali ia mencium keningku. Betapa indahnya malam itu dan takkan pernah terlupakan.

. . .

Jam tanganku menunjukkan pukul 00.40, saatnya kami beranjak pulang.

. . .

Kami tidak pernah tahu apakah tahun depan kami bisa menghabiskan malam pergantian tahun bersama. Ia selalu mematahkan semua keraguanku, ia selalu meyakinkanku baginya hanya keyakinanlah yang dapat menghilangkan rasa takut.

Umi mau menghabiskan malam-malam berikutnya sama abi. Umi ga mau ini semua hanya terjadi satu atau dua kali.

Umi sayang banget sama abi.

Ooopppsss.. kalo yang pake ‘banget’ itu ga baik, (abi red. on)

Terima kasih sayangku, umi + abi = love